Tiada Kasih Seperti yang ada PadaMu

Menjadi sepertiMu itulah yang kurindukan.. hari demi hari kulalui dengan penuh perjuangan maju terus menghadapi segala rintangan yang datang hanya untuk bertemu bersama denganMu dan menikmati HadiratMu...

Jumat, 20 Mei 2011

Sembuh dari Penyakit


Beberapa waktu yang tepatnya tanggal 16 Januari 2010, kami sekeluarga
berangkat ke puncak untuk mengikuti suatu acara. Bersama kami ikut juga Papa
mertua yang usianya sudah 72 tahun. Kebetulan ada dua acara yang harus kami
ikuti yaitu pagi jam 10 Natal wanita dan siangnya jam 2 seminar buat
Bapak-Bapak. Karena saya salah satu yang ikut ambil bagian dalam pelayanan
(sebagai singer) maka kamipun berangkat lebih cepat. Akhirnya kami tiba tepat
waktu dan acarapun dimulai.
Menjelang akhir acara Natal wanita tersebut saya melihat dari jauh suami
saya memanggil saya dengan muka yang sangat serius. Dengan penuh pertanyaan saya
pergi menghampirinya. "Papa sakit", katanya. "Sakit apa?", tanyaku terkejut.
"Tidak bisa buang air kecil dan sekarang lagi merintih kesakitan di kamar
mandi". "Kalau boleh selesai acara ini kita langsung pulang ya....", begitu
cerita suami saya.
Selesai doa penutup saya langsung bergegas menemui papa dan benar dia lagi
berteria-teriak kesakitan. Akhirnya kami langsung pulang dan tidak bisa
mengikuti acara selanjutnya.
Hujan deras turun saat dalam perjalanan kami pulang. Mata kami
melihat-lihat ke kiri kanan jalan untuk mencari klinik. Akhirnya ketemu. Papapun
turun masih dengan rintihan-rintihan kesakitan. Suamiku menemaninya masuk ke
ruang pemeriksaan dokter.
Beberapa menit kemudian dengan mungkin tersenyum papa dan suamiku keluar
dari ruang pemeriksaan. Ternyata papa dipasangin alat bantu untuk buang air
kecil (Kateter). Lega rasanya melihat mukanya yang penuh sukacita. Tapi ternyata
sukacitaku tidak berlangsung begitu lama begitu mendengar diagnosa dokter
tentang sakit papa. Suami saya menceritakan dalam perjalanan kami pulang tentang
penyakit papa. Kata dokter kemungkinan besar papa mengalami pembengkakkan
Prostad dan papa harus mengecek lagi ke RS untuk memastikannya. Tapi Papa harus
terus menggunakan kateter. "Tuhan, haruskan kami mengalami hal ini", tanyaku
dalam hati.
Seminggu lewat, papa mulai kesakitan menggunakan kateter. Dan akhirnya oleh
bantuan seorang suster yang kebetulan tinggal di depan rumah kateter papapun
dibuka. Saat itu kira-kira pukul 10 malam. Papa lega karena dia tidak memakai
kateter lagi.
Kira-kira jam 3 subuh kami terbangun mendengar tangisan dari kamar papa.
Papa kesakitan. Kamipun tidak bisa tidur karena harus melihat papa meskipun
memang hanya suami yang bisa mengurusnya.
Pagi pun tiba dan kami memutuskan untuk papa kembali memakai "accesoris"-nya
tersebut. "Meski sakit", kata Papa, "tapi jauh lebih mendingan dibangding tidak
memakainya.
Akhirnya kamipun pergi ke RS untuk memeriksakan dan berkonsultasi dengan
dokter. Jawaban dokter sungguh mengejutkan. Katanya penyakit pembengkakkan
Prostad lazim pada setiap lelaki yang sudah tua. Obat untuk menyembuhkannya
tidak ada. Pengobatannya bisa ditempuh dengan 2 jalan. Pertama dioperasi. Tapi
mengingat umur papa yang sudah tua, rasanya itu tidak mungkin dilaksanakan. Yang
kedua, disedot. Jauh lebih mudah dan tidak beresiko tapi biayanya jauh lebih
mahal. Jika tidak mau memilih kedua-duanya papa harus siap memakai kateter
seumur hidup.
Begitu penjelasan dokter. Bagi kami semuanya itu terlalu berat. Kalaupun memilih
pake kateter itupun berat bagi papa yang kesakitan kalau memakainya dan kamipun
merasakan berat karena kateter harus diganti seminggu sekali seumur hidup papa.
Biayanya bagi kami cukup berat. Tapi kami tahu ada Seorang Dokter yang luar
biasa yang sanggup menolong kami.
Kami melewati hari demi hari selanjutnya dengan berdoa dan berpuasa. Kami
percaya Yesus itu dahsyat. Dan akhirnya tiba saatnya kateter papa harus diganti.
Kira-kira jam 9 malam perawatpun datang ke rumah. Kata perawat papa mengalami
iritasi. Kalau mau papa istirahat dulu memakai kateter. Tapi kalau kesakitan
panggil saya saja untuk memasang kateter tersebut jam berapapun saya datang.
Malam itu kami lewati dengan tidur nyenyak. Ketika kami bangun kami melihat
wajah papa senyum-senyum saja. Katanya, "Tuhan sudah sembuhkan papa". "Semalam
papa tidur nyenyak tanpa rasa sakit", sambungnya. Tidak biasanya papa seperti
itu. Biasanya 2 jam tanpa kateter papa pasti akan kesakitan. Tapi masih ada
keraguan di hati ini.
Hari demi hari kami lewati minggu demi minggu. LUAR BIASA!!!!. Papa
benar-benar sembuh. Ini suatu mujizat yang luar biasa bagi kami. Tidak hanya
Prostad. Sudah setahun kuping papa mengalami gangguan. Tapi saat itupun kuping
papa pulih. Kami menceritakan hal ini kepada seorang suster yang pernah
menangani papa dan katanya, "Hal yang terjadi pada papa itu diluar jangkauan
medis, itu mujizat". HALELUYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar