Tiada Kasih Seperti yang ada PadaMu

Menjadi sepertiMu itulah yang kurindukan.. hari demi hari kulalui dengan penuh perjuangan maju terus menghadapi segala rintangan yang datang hanya untuk bertemu bersama denganMu dan menikmati HadiratMu...

Minggu, 22 Mei 2011

Kunci Rahasia Hidup (3)

Kunci Rahasia Hidup (3)

Pdt. Effendi Susanto STh.
Download Print a- A+ r
 
 
Nats: 2 Kor.6 : 3-10
Saya bersyukur dan ingin mengatakan kepada sdr yang rindu untuk mengasihi dan melayani Tuhan, bagian firman Tuhan ini merupakan mutiara yang penting bagi setiap kita apa artinya menjadi pelayan Tuhan. Tidak ada motivasi lain, kata Paulus, aku ingin terus berusaha jangan sampai menjadi batu sandungan bagi orang. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan supaya pelayanan Tuhan itu jangan sampai ditertawakan orang. Menjadi pelayan Tuhan itu bukan hobby. Mau mengasihi dan melayani Tuhan itu bukan sekedar sesuatu yang sdr ingin lakukan secara casual lalu berhenti begitu saja.
Kunci yang paling penting dalam melayani bagi Paulus ialah kata ini: “dengan penuh kesabaran” atau “hupomone” dalam bahasa Yunani atau “perseverance” dalam bahasa Inggris. Spirit yang tabah, spirit yang tahan. Menjadi pelayan Tuhan yang bukan sekedar usaha satu dua hari saja, tetapi sesuatu yang konsisten dan menjadi hal yang dipertahankan terus-menerus. Itu yang kita lihat di dalam sepanjang hidup Paulus. Api itu tidak pernah padam. Sekalipun kadang berkobar dan kadang kecil, tetapi bara semangat itu tidak boleh padam di dalam hidup seorang pelayan Tuhan. Itulah yang menjadi kunci rahasianya: tahan dan sabar. Kadangkala kunci ini menjadi hal yang sulit sekali dipertahankan.
Dua puluh tahun terakhir ini terlalu banyak orang melihat pelayanan itu hanya sekedar bagaimana metode terbaik diterapkan. Banyak pemimpin gereja pergi ke tempat-tempat tertentu untuk melihat bagaimana pelayanan di situ bisa berhasil dan mencoba mencontoh metode yang dipakai. Mereka pergi ke Korea belajar kepada Rev. Yonggi Cho dan mempelajari kunci keberhasilannya yaitu “rumah doa.” Maka bertaburanlah rumah-rumah doa dan villa doa di Puncak, bukan? Sekarang metode itu mulai menghilang.
Lalu sepuluh tahun yang lalu orang ramai-ramai pergi belajar kepada Rev. Bill Hybels yang punya gereja Willow Creek yang sangat berhasil. Kuncinya adalah “Seekers Ministry,” satu pelayanan khotbah setiap minggu dengan singkat, dengan bahasa yang mudah dicerna, dengan drama, dsb khusus untuk “seekers” yaitu orang-orang yang belum percaya yang dibawa ke gereja. Sekarang orang-orang pergi belajar ke Saddle Back church dari Rick Warren, ramai-ramai memakai buku “Purpose Driven Life.”
Semua usaha dan metode itu tidak salah, tetapi statistik yang diberikan oleh George Barna memperlihatkan terlalu banyak hamba Tuhan, ratusan dan ribuan hamba Tuhan di Amerika yang ingin berhasil seperti itu dan waktu mereka gagal, akhirnya mereka berhenti di tengah jalan dan tidak menjadi pendeta lagi. Kenapa? Semua teknik dan metode itu telah mereka coba untuk terapkan di dalam pelayanan mereka tetapi tidak jalan, akhirnya mereka kecewa dan meninggalkan pelayanan.
Kira-kira minggu lalu saya membaca satu berita yang sangat menyedihkan di Adelaide Post, mengenai seorang pastor muda yang mengarang lagu “The Healer” yang sangat terkenal. Dia mengatakan lagu itu terinspirasi dari pengalaman pribadinya, waktu dokter mendiagnose ada kanker di tubuhnya, dia merenung dengan sedih di depan piano dan tiba-tiba mengalir kata-kata penghiburan sehingga terciptalah lagu “The Healer” itu. Lagu itu menjadi berkat, gerejanya di Adelaide menjadi bertumbuh dengan luar biasa dan dia menjadi pembicara yang laris diundang ke mana-mana karena dia dianggap sebagai seorang hamba Tuhan yang survive dari kanker 2 tahun yang lalu. Tetapi akhirnya setelah di-counter oleh orang tuanya, dengan malu dia harus mengaku di hadapan umum bahwa semua itu hanyalah cerita bohong belaka. Akhirnya karena itu dia resign dan pelayanan dia menjadi berantakan. Bagi orang luar mungkin ini menjadi bahan cemoohan bahwa orang Kristen itu penuh kebohongan padahal mungkin semua itu didasari dari keinginan supaya pelayanan Tuhan menjadi lebih berhasil dan lebih banyak orang percaya, tetapi dia melupakan esensi-esensi yang penting yang harus menjadi dasar suatu pelayanan yang benar.
Mari kita belajar sama-sama sebagai pelayan Tuhan dari pernyataan Paulus, “kami menjadi pelayan Allah, kami tidak ingin membuat pelayanan Tuhan itu dicela oleh karena kami menjadi batu sandungan orang.” Maka ini menjadi keputusan hidup dia, suatu sikap pelayanan apa yang akan ambil, dan saya harap semua kita mau menjadikan prinsip hidup pelayanan Paulus ini.
Paulus mengatakan, hal yang paling utama ialah ‘dengan penuh kesabaran dan ketabahan’ sesuatu dikerjakan. Dengan sabar, dengan konsisten, dengan tenang dan pelan sampai menghasilkan buah. Tuhan sudah memberikan kita bijaksana alam yang darinya kita belajar. Tuhan tidak mempertumbuhkan banyak hal dengan cepat, bukan? Tuhan menumbuhkan pohon juga melewati suatu proses. Anak kita didik dan besarkan juga tidak langsung jadi seperti yang kita harapkan. Berapa banyak kita ingin anak kita bisa mahir bermain piano seperti anak-anak lain? Tetapi kita tidak tahu bahwa untuk itu perlu berapa banyak waktu untuk berlatih dengan konsisten. Tidak bisa langsung jadi sebegitu cepatnya. Maka jangan sampai karena motivasi yang tidak benar, keinginan diri yang tidak benar, keinginan untuk populer dsb, akhirnya kita gegabah di dalam mengerjakan pelayanan Tuhan sehingga kita mungkin bisa menjadi batu sandungan dan mempermalukan Tuhan. Belajar sabar, belajar tabah, belajar konsisten di dalam mengerjakan sesuatu dengan spirit yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun, terus ingin mengerjakan yang terbaik. Jangan sampai karena keinginan yang salah dan motivasi yang keliru, kita melayani dengan etika yang salah dan moral yang tidak benar. Ini merupakan prinsip yang penting kita pegang.
Ada tiga hal yang Paulus minta kita jaga baik-baik. Minggu lalu sudah saya bahas, yaitu: jaga pikiran kita baik-baik di dalam kemurnian pikiran, increase your knowledge dan sabar di dalam pikiran. Jauhkan pikiran negatif dan hal-hal yang pahit di masa lampau yang bisa mengganjal pikiran kita. Yang kedua, increase your knowledge, terus bertambah, terus bertumbuh, terus ingin menjadi seorang pelayan Tuhan yang mempertumbuhkan banyak pengetahuan. Kita menggali diri, terus menambah di dalam pelajaran, pengetahuan, cara, metode, dsb supaya kita menjadi seorang pelayan yang baik. Yang ketiga, sabar di dalam pikiran, tidak terlalu cepat memberikan penilaian dan judgment yang keliru kepada orang lain.
Hari ini jaga tiga aspek di dalam hati sdr, kata Paulus, di dalam kemurahan hati, di dalam Roh Kudus dan di dalam kasih yang tidak munafik. Tiga hal di sini bicara mengenai hati. Karunia Tuhan, anugerah Tuhan kiranya memelihara hati kita dengan tabah dan dengan sabar terus memperkembangkan tiga hal ini, yaitu di dalam kemurahan hati, di dalam kesucian the spirit of holiness dan di dalam kasih yang tidak munafik.
Apa artinya kemurahan hati? Saya melihatnya lebih di dalam pengertian suatu kualitas hati seseorang di dalam kelegaan. Pribahasa Cina mengatakan di dalam hati seorang pemimpin yang baik, kapal bisa berlayar dengan lapang. Hati yang lebar dan lapang, hidup kualitas yang selalu lebih memperhatikan dan lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Kata kemurahan itu juga dipakai untuk Allah, berbicara mengenai generosity hati Allah yang begitu murah hati memberikan anugerahNya.
Sdr masih ingat perumpamaan Tuhan Yesus mengenai seorang pemilik kebun anggur yang memberi upah kepada pekerja-pekerjanya (Mat.20:1-16). Kepada pekerja yang bekerja jam 9, 12, 3 dan 5 sore, dia memberi upah satu dinar, satu upah yang layak untuk kebutuhan keluarga dalam sehari. Pekerja yang mulai bekerja sejak pagi-pagi benar kemudian bersungut-sungut ketika pemilik kebun itu memberi upah yang sama kepada mereka. Perhatikan kalimat dari pemilik anggur ini, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Iri hatikah engkau karena aku murah hati?”
Kemurahan itu tidak ditahan-tahan. Tidak ada paksaan. Kata itu yang dipakai Paulus, hati kita yang pertama-tama memiliki kemurahan sebagai seorang yang tidak mempertahankan kepentingan diri sendiri tetapi lebih melihat bagaimana kebutuhan dan kepentingan orang lain. Menjadi pelayan Tuhan adalah seorang yang harus melawan sifat egoisme dalam dirinya. Seorang pelayan Tuhan yang egois, yang lebih mementingkan diri sendiri dan reputasi diri, yang hanya ingin mencari kepentingan diri, itu bertentangan dengan spirit pelayanan. SIkap tidak egois tidak berarti kita menjadi orang yang tidak punya citra diri. Seorang anak sejak kecil belajar dua hal, pertama dia belajar bilang ‘NO’ sebelum bilang ‘YES,’ dan kedua bilang ‘MINE’ sebelum belajar sharing. Kita jangan memaksa anak kita yang baru berumur 1-2 tahun untuk belajar share kepada anak lain karena di situ dia sedang belajar memperkembangkan satu self identity. Setelah hal itu established, dia akan lebih mudah belajar apa arti sharing dengan anak lain. Maka serving, melayani orang, lebih memperhatikan orang lain bukan berarti kita akhirnya tidak menghargai identitas diri ataupun menghina diri. Justru maksudnya, kita mengerti identitas diri kita yang berharga di hadapan Tuhan apa adanya. Tetapi kalau identitas diri diidentikkan dengan pelayanan-KU, dengan harta-KU, dengan segala kesuksesan dan keberhasilan yang ‘si AKU’ capai, maka ketika semua itu runtuh kita akan merasa hidup kita gagal total. Kemurahan hati memiliki pengertian kita sadar kita begitu bernilai di hadapan Tuhan dan hal ini tidak perlu kita pertahankan. Kita menjadi orang Kristen yang belajar tidak egois. Itu sebab sebagai pelayan Allah kita belajar lebih memberi, lebih memperhatikan dan lebih mengasihi orang lain. Itu paradoks yang Tuhan Yesus katakan, barangsiapa yang terus mempertahankan hidup, dia akan kehilangannya. Tetapi barangsiapa memberi dirinya, dia akanmenerimanya kembali. Itu paradoks sekali. Mau menjadi pelayan Tuhan yang baik? Buka hati sdr selebar-lebarnya, belajar menjadi orang Kristen yang memberi, rela untuk memberi sesuatu demi kepentingan orang lain tanpa pamrih. Itu yan g Allah lakukan pada waktu Dia memberi.
Dalam Mat.13:45-46 Tuhan Yesus memberi prinsip apa artinya hidup di dalam Kerajaan Allah dan bagaimana kita hidup mengasihi Allah di dalam perumpamaan seseorang yang menemukan mutiara yang berharga. Demikianlah sebenarnya hidup kita bagi kerajaan Allah. Pada waktu kita terus mempertahankan semua menjadi milik kepunyaan kita, kita membuat hati kita sendiri menjadi sempit. Kemurahan hati akan terlihat pada waktu seseorang tidak mempertahankan hak milik dan pegang semua erat-erat, akhirnya lupa bahwa seluruh hidup kita sebenarnya kita miliki kembali pada waktu kita jadikan itu sebagai milik pelayanan untuk Tuhan dan untuk orang lain. Semua yang kita punya adalah miliki Tuhan, yang Tuhan kasih untuk kita pakai dan nikmati dan Tuhan minta kita dengan setia mengelolanya.
Sekitar 15 tahun yang lalu ada satu kisah nyata terjadi di Palm Beach, Florida, seorang nenek tua ditemukan meninggal di rumahnya dengan keadaan yang mengenaskan. Dia meninggal karena malnutrisi. Tubuhnya begitu kurus, tidak lebih daripada 30 kg. Tetangga mengatakan nenek tua ini sering datang meminta sisa-sisa makanan dan kadang mengorek tempat sampah orang untuk mendapatkan makanan. Yang mengejutkan ternyata juga ditemukan dua kunci dari safety box di bank, di dalamnya ada beberapa surat obligasi dan saham dari AT&T dan ada uang $200.000 dan sejumlah mata uang asing yang sejumlah $600.000, sehingga total kekayaannya hampir 1 million dollar. Tragisnya, sepanjang hidup dia menjalaninya sebagai orang miskin dan melarat.
Yang kedua, the spirit of holiness ditaruh sebelum kasih yang tidak munafik. Paulus menaruh hal ini sebagai satu kriteria penting bagi seorang pelayan Tuhan. Kenapa? Kita akan mengerti lebih dalam waktu kita mengaitkannya dengan nasehat Paulus kepada jemaat Galatia dalam Gal.6:1 ”..kalau seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, pimpin orang itu ke jalan yang benar sambil menjaga dirimu sendiri supaya jangan kena pencobaan.” Prinsipnya sederhana dan saya selalu pegang baik-baik. Waktu seseorang konseling, kita bersimpati dan ikut merasakan kesulitan yang dia alami, tetapi jangan sampai kita masuk lebih dalam daripada yang sepatutnya. Kindness, terbuka, menjadi orang yang memperhatikan orang lain. Tetapi Paulus tambahkan, tetaplah memiliki the spirit of holliness, jaga diri baik-baik jangan sampai kita memperhatikan kebutuhan dan kepentingan orang lain tetapi kita sendiri bisa jatuh. Seorang hamba Tuhan harus hati-hati dan baik-baik, di dalam memberikan pelayanan, memperhatikan kesulitan jemaat, dsb kita jangan sampai jatuh. Hidup untuk orang lain, tetapi jaga spirit of holiness.
Selanjutnya Paulus bicara mengenai action di ayat 7 ”...terus-menerus preaching the word of God, preaching the power of God dan melakukan itu semua dengan 2 metode yaitu dengan menyerang dan membela. Dalam 2 Kor.10:3-8,15 Paulus menghadapi kritikan tetapi dia menyatakan bagaimana hidup pelayanannya.
Pak Tong selalu mengingatkan “kalau mampu melahirkan sendiri, tidak usah pungut anak orang lain,” maksudnya di dalam pelayanan kita harus betul-betul percaya kuasa Injil yang bisa merubah hati orang dan tidak usah takut dan tidak usah ambil domba orang. Paulus memberi prinsip ini: saya membangun, bukan meruntuhkan. Kedua, saya tidak datang ke tempat orang lain dan ambil domba orang. Ini prinsip pelayanan dia. Dengan setia memberitakan firman Allah, dengan setia menyatakan kuasa Allah dan melayani dengan membela dan mempertahankan. Maksudnya bukan hanya membela diri tetapi lebih merupakan sifat pelayanan dia yang berada di front depan, menghadapi orang yang tidak percaya, orang yang terbuka menentang untuk mengenal Tuhan. Paulus menyerang dan meruntuhkan segala keangkuhan pikiran mereka yang tidak mau mengenal Tuhan. Itu bentuk pelayanan Paulus. Maka dia membangun pelayanan dan bukan meruntuhkan ataupun mengganggu wilayah pelayanan orang lain. Saya percaya ini merupakan prinsip yang penting dan sampai hari ini saya mengingatkan kepada sdr semua yang melayani bersama-sama dengan saya, menjadi anggota gereja di tempat ini. Sdr tahu saya punya prinsip tidak akan pernah mengajak sdr pelayanan kalau sdr baru pertama kali datang ke gereja ini. Yang kedua, saya tidak akan pernah minta sdr pindah ke gereja ini. Selama 15 tahun pelayanan sampai hari ini saya terus pegang prinsip ini. Kalau sdr datang berbakti di sini dengan setia dan hati sdr sudah merasa ini adalah gerejamu, saya akan terbuka jika sdr mau berbagian melayani. Tetapi saya selalu akan memberi pertanyaan ini, apakah sebelumnya sdr ada pegang pelayanan di satu gereja dan ada pegang satu jabatan dan masih belum menyelesaikannya? Maka saya akan mengatakan, walaupun hati sdr di sini, selesaikan dulu pelayanan di sana, baru kemudian melayani di sini. Hal-hal seperti itu selalu menjadi prinsip yang harus kita pegang supaya kita tidak bersalah kepada pihak lain. Kita tidak boleh takut, terus melayani dengan memberitakan Injil, orang diberkati dan bertumbuh. Kalau bisa ajak orang belum percaya ke gereja. Bagaimana gereja Tuhan bisa berkembang dan bertumbuh?Setiap anak Tuhan dengan setia seumur hidup preaching the word of God, menyatakan kuasa Allah dan membawa orang belum percaya, runtuhkan pikiran mereka supaya bisa percaya dan mengenal Tuhan. Tidak usah takut kalau kita melayani dengan tulus dan jujur memberitakan Injil orang tidak tertarik dan tidak percaya Tuhan. Saya harap ini semua menjadi prinsip yang terus-menerus tertanam di dalam diri saya dan sdr. Pada waktu kita memutuskan untuk menjadi pelayan Tuhan kita perlus atu hati yang tabah dan tahan.
Mari kita lihat Kol.4:14 dalam bagian ini Paulus memberikan pujian dan apresiasi kepada rekan-rekan kerjanya Tikhikus, Onesimus, Aristarkus, Epafras, dan kepada Lukas tetapi kepada Demas tidak ada satu kalimat Paulus nyatakan tentang dia. Paulus tidak memuji kehebatan mereka, tetapi Paulus menekankan satu kata yaitu “setia”, mereka setia bersama-sama dia melayani, mereka ikut di dalam penjara, bergumul di dalam doa, dsb. Ini adalah kriteria yang sangat penting bagi Paulus. Nanti di dalam surat 2 Tim.4:10 sdr akan menemukan bahwa beberapa tahun kemudian Demas ternyata meninggalkan pelayanan “karena dia lebih mengasihi dunia ini.” Di Kolose, Paulus sudah meraba hal ini dari diri Demas. Paulus tidak sanggup menulis apapun mengenai dia dan memang terbukti tiga tahun kemudian dia meninggalkan Paulus dan tidak melayani lagi.
Konsistensi merupakan kunci yang penting. Kesuksesan dan ketidaksusesan merupakan proses di dalam satu pelayanan. Dihormati atau tidak dihormati merupakan bagian di dalam satu pelayanan. Tetapi semua itu akan sdr dan saya lewati pada waktu kita menjadi seorang Kristen yang memiliki ‘hupomone’ perseverance. Sampai pada titik terakhir, Yesuspun bicara mengenai pelayan yang punya bakat 5 talenta, yang punya bakat 2 talenta dan yang punya bakat 1 talenta, tidak ada masalah bagi Dia. Yang terutama bagi Tuhan, Dia memuji “hamba yang setia.” Sdr dan saya berbeda bakat dan talenta, sdr dan saya berbeda opportunity, sdr dan saya berbeda status, dan kita masing-masing memiliki karunia dari Tuhan yang berbeda. Kita tidak perlu malu, tidak perlu kecewa, tidak perlu iri, dan tidak mempersalahkan Tuhan di dalam keunikan yang berbeda yang Tuhan beri kepada kita. Tetapi yang Tuhan jelas minta dan tuntut kepada kita hal yang sama, bagaimana kita jadikan semua yang sudah Tuhan berikan itu menjadi berkat di dalam hidup kita.(kz)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar